Dua orang bisa menghadapi kegagalan yang sama, tetapi bereaksi sangat berbeda. Yang satu berkata 'aku memang tidak bisa', yang lain berkata 'aku belum bisa'. Perbedaan kecil dalam cara memandang kemampuan ini punya pengaruh besar pada perkembangan seseorang.

Dua cara memandang kemampuan

Sebagian orang menganggap kemampuan sebagai sesuatu yang tetap: kamu pintar atau tidak, berbakat atau tidak. Sebagian lain menganggap kemampuan bisa tumbuh lewat usaha dan latihan. Pandangan kedua inilah yang disebut mindset bertumbuh, dan ia membuat kegagalan terasa seperti bagian dari proses, bukan vonis.

Kegagalan sebagai informasi

Dengan mindset bertumbuh, kegagalan bukan tanda bahwa kamu tidak mampu, melainkan petunjuk tentang apa yang perlu diperbaiki. Alih-alih bertanya 'apa yang salah denganku', kamu bertanya 'apa yang bisa kupelajari dari ini'. Pertanyaan kedua membuka jalan, yang pertama menutupnya.

Perhatikan caramu berbicara pada diri sendiri

Kata-kata yang kamu ucapkan dalam hati membentuk caramu bertindak. Menambahkan kata 'belum' pada kalimat seperti 'aku tidak bisa melakukan ini' mengubahnya dari kesimpulan menjadi tahap. Perubahan bahasa yang kecil ini melatih caramu memandang tantangan.

Hargai usaha, bukan hanya hasil

Jika kamu hanya menghargai hasil, kamu akan menghindari hal-hal yang berisiko gagal. Hargai juga usaha dan proses belajar, baik pada dirimu maupun pada orang lain. Dengan begitu, mencoba hal sulit terasa lebih aman dan layak.

Mindset bukan sihir

Mindset bertumbuh bukan berarti semua bisa dicapai asal cukup berusaha. Ada batas yang nyata. Namun memandang kemampuan sebagai sesuatu yang bisa berkembang membuatmu lebih tahan banting dan lebih mungkin terus belajar setelah jatuh.

Tentang Rina Wijaya

Rina adalah pemimpin redaksi DailyVista. Ia menempuh studi psikologi industri dan organisasi, lalu bekerja lebih dari sepuluh tahun sebagai konsultan pengembangan sumber daya manusia. Ia menjaga arah redaksi dan menulis tentang sisi manusiawi dari dunia kerja.

Artikel lain penulis ini