Kebanyakan orang tidak gagal saat memikirkan kebiasaan baik, melainkan saat mempertahankannya. Kita mulai dengan semangat lalu menyerah setelah beberapa minggu. Perbedaan antara niat dan kebiasaan bukan terletak pada motivasi, tetapi pada cara menyusunnya.

Buat langkah pertama sangat kecil

Kebiasaan yang dimulai terlalu besar tidak akan bertahan. Ingin mulai berolahraga? Jangan langsung menargetkan satu jam, cukup pakai sepatu dan keluar rumah. Terdengar terlalu kecil? Justru itulah ukurannya. Cukup kecil untuk tetap dilakukan bahkan di hari yang sibuk atau lelah.

Tempelkan pada kebiasaan lama

Kebiasaan baru lebih mudah melekat bila ditautkan pada momen yang sudah ada. 'Setelah minum kopi pagi, aku menulis tiga baris' lebih konkret dan andal daripada 'aku ingin lebih sering menulis'. Momen lama berfungsi sebagai pengingat.

Buat terlihat

Catat kapan kamu menjalankan kebiasaanmu, misalnya dengan tanda di kalender. Deretan tanda itu akan bertambah dan kamu tidak ingin memutusnya. Cara sederhana ini ternyata cukup ampuh mendorong konsistensi.

Jangan menyerah karena satu hari terlewat

Semua orang sesekali melewatkan satu hari. Itu bukan kegagalan; menyerah baru kegagalan. Aturannya sederhana: jangan melewatkan dua kali berturut-turut. Bolong sehari adalah pengecualian, dua hari adalah awal pola baru.

Beri waktu

Kebiasaan baru terasa wajar hanya setelah waktu berlalu, dan lamanya berbeda untuk tiap orang. Jangan berharap keajaiban dalam seminggu. Mereka yang bertahan dengan langkah kecil mencapai lebih banyak dalam jangka panjang dibanding yang bersemangat sesaat.

Tentang Rina Wijaya

Rina adalah pemimpin redaksi DailyVista. Ia menempuh studi psikologi industri dan organisasi, lalu bekerja lebih dari sepuluh tahun sebagai konsultan pengembangan sumber daya manusia. Ia menjaga arah redaksi dan menulis tentang sisi manusiawi dari dunia kerja.

Artikel lain penulis ini